"Romantisme Pemikiran Religius Masyarakat Sunda"
“Yah, ini yang gue maksud mengenai filosofi bagaimana mengembangkan kemampuan si dua belah pihak antara masyarakat dan si kaum intelektual, tapi tanpa ada satupun dari kedua belahpihak itu yang akan dirugikan”.Pikiran berbicara.
“Wah apaan tuh? jangan yang aneh – aneh kisana, kamu kan suka melakukan hal yang aneh, aku juga sampai sekarang belum menemukan sebuah konsep filsafat itu”.Hati terheran.
“Woy, gue bener – bener menemukan itu,boi.Ga tau kenapa pas gue merenung tentang kehidupan ini,terutama kehidupan masyarakat Sunda,tiba – tiba gue kemasukan benda yang bener – bener ga asing lagi, mungkin lue juga tau,tapi bukan yang jorok ya.he..he”.
”Wah bener – bener sudah sembuh kamu. Apa “benda” itu kang? Jadi penasaran”. Hati masih meragukan Pikiran. Memang sangat rasional ketika si hati ini meragukan Pikiran yang jelas – jelas selama ini Pikiran selalu berpikiran yang ga jelas, jorok, dan konyol.
“ Benda ini sangat sakral dan merupakan pemikiran romantisme luar biasa yang pernah dimiliki masyarakat Tatar Sunda. Ini merupakan pameo budaya yang mencerminkan karakter khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya. “Silih asih, silih asah, dan silih asuh” ini lah “bendanya” yang berupa pameo,boi. Kalau diartikan secara sederhana kurang lebih silih asih ialah saling mengasihi, silih asah saling mempertajam diri, dan silih asuh saling memelihara dan melindungi”.Pikiran berbicara dengan serius.
“Apa mungkin “benda” ini bisa digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kehidupan si dua kaum itu,masyarakat dan mahasiswa”? Hati masih saja ragu. “Ga papa, kalo lue masih meragukan konsep gue. Gini boi, semua tingkah laku yang kita lakukan merupakan manifestasi dari pikiran kita sendiri, kalau kata Dosen KS Unpad mah, self-talk lah (gaya uy sok inggris). Jadi jelas paradigma pikiran kita perlu dirubah untuk berkehidupan yang lebih baik, mengingat selama ini pencapaian sebagai manusia yang utuh sangat jauh untuk digapai, tapi bisa boi. Oleh karena itu boi, gue pengen mentransferkan filsafat hidup silih asih, silih asah, dan silih asuh tidak hanya sebagai ucapan belaka tapi harus menjadi konsep pemikiran dengan diestapetkan ke tingkahlaku”.
“oh gitu. Jadi apa keistimewaan (isi) “benda” ini? Sehingga kamu yakin ketika seseorang dalam kehidupannya mempunyai “benda” ini, Dia akan berfungsi sebagai manusia”. Hati mulai tertarik.
“Ok Boi, gue akan menjelaskan isi benda ini tapi, gue akan menyadur dari pemikiran buyut,kakek,nenek gue baheula. Gini kata mereka, Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai – nilai ketuhanan dan nilai – nilai kemanusiaan. Semangat ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter ( persamaan ) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior atau inperior merupakan peraktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior ( tinggi ), berarti mendudukan manusia pada sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior ( rendah ), berarti mengangkat dirinya sejajaran dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia didudukan secara sejajar ( egaliter ) satu sama lainnya. Prinsip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta’awun ( kerjasama ) dan sikap untuk senantiasa bertindak adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis. Tradisi ( budaya ) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan msyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahaan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial. Selain itu, dalam masyarakat religius seperti ini jarang terjadi konflik dan kericuhan, tetapi ketika ada kelompok lain yang mencoba mengusik ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak ( simultan ). Budaya silih asuh inilah yang merupakan manifestasi ahlak Tuhan yang maha pembimbing dan maha menjaga, kemudian dilembagakan dalam silih berbuat kebaikan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silih asuh merupakan etos pembebasan dalam masyarakat religius dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup dan segala bentuk kejahatan. Meski demikian, budaya religius sesungguhnya memberikan peluang dalam penyerapan iptek sebab memiliki sejumlah potensi, etos keterbukaan, penalaran, analisis, dan kritis sebagai upaya perwujudan ahlak Tuhan Yang Maha berilmu dan Maha kreatif sebagaimana dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asah. Saling asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khaznah pengetahuan dan teknologi. Tradisi saling asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat religius merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain sebab tanpa tradisi iptek dan semangat ilmiah satu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah tereksploitasi, tertindas, dan terjajah. Saling asah merupakan semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri kearah penguasaan dan penciptaan iptek sehingga iptek tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggun, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi iptek dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan iptek dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi keritis, dan tanggung jawab. Dengan demikian, budaya saling asih, saling asuh, saling asah tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Dengan strategi ini, gue harapkan adanya hubuhan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat guna mewujudkan keberfungsian sosial. Dari wujud keberfungsian sosial tersebut, dapat berpengaruh terhadap kembalinya citra diri masyarakat Indonesia, sehingga akan terhindar dari kegelisahan, kebingungan, penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis yang melanda sebagian besar manusia Indonesia”. Pikiran menggamblangkan semua pemikiran filsafatnya.
“Luar biasa, saya jadi terenyuh mendengar perkataan anda. Anda telah menggerakan ibu jari saya untuk mengatakan setuju dan akan mendukung. Tapi, harus dicermati juga kisana wujud pemikiran anda dituangkan dimana?”
“HGTC ( Hima KS Goes to Country ) ini mungkin langkah awal boi”.
“Kisana – kisana mudah - mudahan berhasil apa yang anda cita -citakan, tapi ingat jangan sampai ketika acara ini gagal, tidak ada out putnya, semangat untuk merubah sesuatu yang lebih baik itu ikut luntur. Karena kegagalan sesungguhnya ketika anda menyerah oleh kegagalan sebelumnya”. Hati berceramah.
“ ia bawel loe ah”. Pikiran kesel atas ceramah – ceramah si Hati yang setiap saat menggangunya.
Minggu, 26 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar