Selasa, 17 Mei 2011

"sekali dayung satu sampai dua minggu terlampoi"

         Luarbiasa itulah kata yang pantas Saya katakana untuk dua minggu yang lewat ini terhitung akhir Mei – awal Juni 2011. Bagaimana tidak luar biasa Bray dalam dua minggu ini mulai dari kegiatan, keadaan, perasaan semua menumpuk bak cucian kotor di kosan yang tidak dicuci – cuci selama dua minggu. Sampai Saya lupa hari demi hari ,,hari apa ya sekarang? Senin, Kamis atau jumat? (lebay mas Bro).

         Anugrah dari Ya Rahim yang patut disyukuri mengingat pada akhir Mei 2011 Teh Lia ( kakak ), sembuh dari penyakitnya. Padahal menurut dokter, penyakit tersebut tidak bisa sembuh karena belum ada obatnya. Namun yang punya dokternya dan juga alam semesta ini berkehendak lain, Gusti Allah SWT menghendaki Lia Syofar Kamalia untuk sembuh yaa sembuh lah. Kemudian dalam waktu tidak terlalu lama dari kesembuhannya, ada dua orang pria dalam kurun waktu tiga hari melamar Teh Lia. Hal ini, merupakan kebahagian yang luarbiasa bagi beliau, keluarga dan kerabat. Alhamdulillah setelah perundingan dan hasil istikharoh menetapkan seorang laki–laki yang insyAllah diridhoi Allah SWT, selamat ya Teh semoga selau dalam perlindunNya, amin. Kebahagian yang diberikan secara bersamaan ini merupakan buah kesabaran teteh selama bertahun–tahun. Hal ini, sesuai dengan apa yang pernah saya dengar (bahwa Allah Swt bersama orang – orang yang sabar), mangkanya kalau punya anak kasih nama Sobirin aja, biar dijaga Allah SWT terus,hehe.

        Sebaliknya perasaan mencemaskan datang ketika mamah mulai sakit – sakitan,si teteh prikitiw sakit juga akibat mungkin kecapean karena harus melakukan pekerjaan lainnya yang telah di tinggalkan pegawai yang keluar dari kanti dengan berbagai alasan ada yang bilang sakit, mau nikah dsb. Hal ini membuat perasaan kesel terhadap pegawai. Mereka pulang begitu saja tanpa ada kesepakatan dari kita sehingga kita kewalahan dalam menjalankan kantin yang ditinggalkan tiga pegawai sekaligus. Kedaan ini membuat kita bekerja dengan berbagai peran:
Pagi : si AA kepasar menggantika mamah yang sakit, Saya harus jadi kasir gadungan,hehe teteh prikitiw persiapan kecil di dapur .
Siang : AA jadi kasir kembali, kemudian saya jadi tukang jus, teteh prikitiwi koki nasgor ( relative lebih ringan ), dan pengantar teh Ati yang dialihkan dari dapur.
Malam : Dengan formasi yang semakin sedikit yaitu hanya empat orang di dapur kami pun saling mengisi dan harus memainkan peran yang banyak (lada)
Langkah selanjutnya kami pun mencari pegawai untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pegawai. Kami pun mencari di jatinangor dan Garut. Alhamdulillah dalam waktu satu minggu lebih kami mendapatkan pegawai sehingga kekosongan pun mulai terisi.

       Dalam waktu bersamaan saya pun harus menyelesaikan dua kegiatan yaitu penyelesaian proyek penelitian jurusan dan persiapan pernikahan Teteh. Laporan penelitian harus selesai satu minggu ini, sehingga mengaharuskan tim Posyandu ( saya, Tole, Saemi ) harus kerjakeras bergadang di kontrakan om K, bersama tim lainnya. Sayapun selesai dari kantin jam 8 harus menuju Perum Cileunyi Indah markas penelitian untuk bergadang ampe dini hari, dan paginya harus nongkrong di kantin, Labo ( lada bo),haha. Selanjutnya, pernikahan teteh yang semakin dekat mengharuskan kami mempersiapkan segala sesuatu untuk hari H seperti acara lamaran sekaligus kesepakatan tanggal perkawinan, gedung, baju, undangan dsb. Hal ini, membuat kami harus bulak balik Garut - Nangor dengan bergantian.

        Semua hal ini merupakan suatu gambaran kecil tentang tahapan kehidupan selanjutnya. Dimana, tahapan kehidupan selanjutnya memaksa saya untuk melakukan beberapa peran yaitu sebagai manusia ibadah, manusia pekerja, manusia pemikir, manusia yang menggunakan hatinya, manusia yang sehat, manusia bermain. Maka dari itu seruling itu harus terus di tiup, gendang itu harus dipukul, gitar itu harus dipetik, sehingga, harmoni keseimbangan hidup itu akan terasa indah. Saya harus terus belajar dalam menggapai harmoni keseimbangan itu, karena sangat dibutuhkan dalam kehidupan saya.

Selama ini Saya ingin ber haturnuhun kanggo:
Gusti Allah SWT yang telah menjadikan ku pedang kemudian Kau asah aku dengan duniaMu untuk jadikanku pedang yang tajam, walaupun gesekan itu terasa “panas”. Engkau lebih penting dari kepentingan apapun, karena aku tidak akan ada tanpaMu. Rasullullah, Engkau sangat penting bagi umat manusia termasuk aku. Karena, Aku tidak akan ada tanpaMu. Orang tua ku, Kalian penting sekali. Karena, Aku tidak akan ada tanpa kalian. Keluarga ku, Kalian penting. Karena , Aku tidak akan ada tanpa kalian. Kerabat, sahabat, teman, orang yang mengenal selewat kalian penting. Tetapi, Aku tetap ada kalau tidak ada kalian. Negara Indonesia, anda tidak begitu penting. Karena, tanpa anadapun Aku akan tetep ada. Tropic of cancer yang memberikan gambaran mengenai kehidupan manusia dengan berbagai macam masalah ( kemiskinan, kelaparan, pembunuhan, korupsi, kekejaman pengusaha ). Hal ini, membuat kita harus banyak bersyukur dengan keadaan kita sekarang ini. Komunitas Kenduri Cinta yang telah memberikan banyak cerita, teori, pengalaman, cara berpikir, mengenai kecintaan atas segala apapun. Barudaks PALAKS yang telah memberikan banyak inspirasi, diskusi, proyek, ngopi n rokok bareng dalam minggu ini.

Selasa, 26 April 2011

Pilihan takdir

        Kata takdir berasal dari kata qadar nyaeta "kadar", "ukuran", dan "batasan" ( Quraish shihab ). Ketika matahari terbit dari timur, bulan berputar pada porosnya, sebagian burung terbang dan sebagian lagi tidak dapat terbang. Ini adalah kadar yang sudah ditetapkan oleh NYa. Manusia berada dalam lingkungan takdir, semua yang dilakaukan tidak terlepas dari hukum - hukum kadar ukurannya. Tetapi kita harus ingat manusia diberi banyak pilihan mengenai takdirnya, apakah mau memilih yang ini atau yang lainnya. Saya ingat cerita tentang seorang pelancong yang akan berkunjung kesuatu daerah, dia membatalkan kunjungan ke dareah itu karena adanya bahaya wabah penyakit. " apakah dia menghindar dari takdir Tuhan"? karena wabah penyakit adalah ketentuan atau takdir Tuhan." tidak demikian dia menghindar dari takdir satu ke takdir yang lainnya agar bisa terbebas dari wabah penyakit dan ini pun takdir Tuhan. 
        Berarti dalam hidup ini kita diberi pilihan oleh Tuhan apakah memilih takdir yang baik atau takdir yang buruk. " Jadi jangan saat kita tertimpa malapetaka kita menyebut " ini takdir Tuhan" namun pada saat mendapatkan kegembiraanpun seharusnya kita mengucapkan "ini takdir Tuhan".

Senin, 25 April 2011

KESEIMBANGAN HIDUP

KESEIMBANGAN HIDUP

ketakutan ku

AKU TAKUT MATI

TAPI AKU LEBIHTAKUT LAGI

BERNAFAS KEMBALI SETELAH MATI

Jumat, 26 Juni 2009

Mencari jalan

Kawan! bangun! bangun! Apakah kiranya kamu terlelap memikirkan nasib kamu semalaman sehingga, melewatkan sang fajar menyingsing? Ataukah kamu malah bersenang – senang semalaman dengan kaum hedonis disana sembari menutup hati dan pikiranmu dengan kerikil – kerikil kemunafikan?

Liahatlah! Bangun! dan cari terus jalan itu, jangan menyerah!
Ingatkah kamu akan janji terhadap Tuhanmu dengan kalimat Syahadat yang manis keluar dari mulutmu, bahkan diamini dengan getaran hatimu. Saat itu kamu telah berjanji bahwa akan mengukuhkan Tuhan dikehidupanmu. Ketika, kamu mengakui Tuhan sebagai sesuatu yang ada maka konsekuensinya kamu harus mengakui unsure – unsure yang berhubungan denganNYa, baik itu perintah, larangan, kodrat, sifat- sifat dan makhluk ciptaanNya.
Sadarkah kamu atas janjimu, ketika meninggalkan dan melalaykan perintahNya padahal itu untuk kebaikanmu. Sadarkah kamu atas janjimu, ketika Tuhanmu memberikan kenikmatan terhadapmu namun nampaknya kamu mengacuhkanNya. Apakah kamu tidak sadar atas janjimu, ketika seharusnya kamu berterimakasih terhadap seseorang malah kamu tidak melakukannya padahal kasih itu merupakan sifat Tuhan. Kamu harusnya sadar atas janjimu, ketika kerusakan lingkungan ini di akibatkan atas keserakahanmu padahal itu adalah makhluk Tuhan yang harusnya dipelihara. Apakah kamu masih tidak sadar akan janjimu, ketika amanah yang dipercayakan terhadapmu kamu hianati demi memakmurkan nafsu hitammu! Berarti ini menandakan kamu telah melanggar janji itu, ini bukan janji terhadap presiden, raja, nabi, ataupun rasul lo, tetapi ini janji terhadap yang menciptakan presiden, raja, nabi ataupun rasul yaitu Tuhan. Tidakkah seluruh tubuhmu merasa merinding, atas apa yang kamu perbuat?
Kawanku, ayooooo bangun! bangun! sadar! Buka pikiran dan hatimu, refleksikan semuanya. Cari terus jalan itu!Bergerak terus! ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, ke gununng, ke samudra, ke padang pasir, ke kutub utara, ke kutub selatan, ke langit, bahkan sampai liang lahat. Kawanku kamu harus mencari jalan – jalan itu, untuk memenuhi janjimu. Singkirkan kerikil – kerikil kelalayan itu dibenakmu.
Walaupun kami jauh, tidak tampak di depanmu, tidak bersenda gurau bersamamu, tidak terjemahkan oleh ruang dan waktumu, sungguh kami mendoakanmu dengan lirih pengharapan agar kamu bisa menemukan jalan lurus itu. Wassalam

Sabtu, 23 Mei 2009

Apakah iman manusia masih ada ?

Lihatlah teman – teman, apa yang terjadi disekeliling kita apakah iman seorang manusia masih mampu berbuat sesuatu ketika keadilan, ketidakjujuran, penghianatan masih menguasai dunia ini. Saya yakin teman – temanpun yakin, bahwa semua agama di muka bumi ini mengajarkan dengan lantang bahwa keimanan adalah harga mati untuk sebuah kebahagaiaan di dunia dan di akhirat. Dari pemahaman itu, maka seharusnya seorang manusia mempunyai keimanan yang kuat. Namun, pada kenyataannya apa yang terjadi justru sebaliknya. Manusia semakin kehilangan imanya dan akhirnya keluar jalur kodrat manusia sebagi pemimpin di dunia ini, yang seharusnya menjaga kaumnya, serta lingkungan sekitarnya.
1) Apakah cukup kuat keimanan seorang pengusaha menggunakan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat atau malah akan memperkaya dirinya sendiri untuk sebuah penghargaan sebagai pengusaha tersukses.
2) Apakah cukup kuat keimanan seorang hakim terhadap uang suap untuk menggadaikan hukum yang seharusnya ditegakkan dengan kejujuran untuk kepentingan masyarakat.
3) Apakah cukup kuat keimanan seorang dokter untuk menjaga kode etik dan sumpahnya, mengingat keluarganya membutuhkan banyak kebahagiaan.
4) Apakah cukup kuat iman seorang ustad, pastur, biksu, atau tokoh agama, terhadap kemolekan seorang perempuan.
5) Apakah akan cukup kuatkah iman seseorang untuk menantang ketidak adilan, kemunafikan, kebiadaban di muka bumi ini.

Ternyata iman itu pecah ditempat yang seharusnya tidak pecah. Artinya manusia belum memahmi hakikat iman tersebut, mereka terkecoh dengan hanya pendoktrinan antara surga dan neraka. Seharusnya manusia berpikir dan memahami jauh lebih mendalam bagaimana hakekat pilosofi iman itu sendiri.
Teman – teman sekalian coba kita tengok perilaku hewan – hewan yang dianggap sebagai makhluk “dibawah” kita. Tenyata menunjukan kemuliannya di hadapan kita.
Bagaimana kesetian yang amat dalam dari rakyat lebah terhadap “ibu surinya”, sampai – sampai mengorbankan jiwa dan raganya demi pengharapan besar terhadap nasib kerajaannya. Untuk keselamtan kelompoknya dari perburuan maka, seekor induk orangutan akan melindungi keluarganya dari bahaya. Bagaimana seekor induk ayam melebarkan sayapnya symbol kemarahan dan perlawanan ketika anak – anaknya diganggu. Apakah kita tidak malu ketika hewan disekeliling kita lebih cukup memperlihatkan iman untuk menunjukan sikap kesetiaan, kejujuran, ketulusan terhadap kelompoknya.

Apakah iman seorang manusia masih ada ? sedangkan dunia saat ini membutuhkannya.