Sabtu, 23 Mei 2009

Apakah iman manusia masih ada ?

Lihatlah teman – teman, apa yang terjadi disekeliling kita apakah iman seorang manusia masih mampu berbuat sesuatu ketika keadilan, ketidakjujuran, penghianatan masih menguasai dunia ini. Saya yakin teman – temanpun yakin, bahwa semua agama di muka bumi ini mengajarkan dengan lantang bahwa keimanan adalah harga mati untuk sebuah kebahagaiaan di dunia dan di akhirat. Dari pemahaman itu, maka seharusnya seorang manusia mempunyai keimanan yang kuat. Namun, pada kenyataannya apa yang terjadi justru sebaliknya. Manusia semakin kehilangan imanya dan akhirnya keluar jalur kodrat manusia sebagi pemimpin di dunia ini, yang seharusnya menjaga kaumnya, serta lingkungan sekitarnya.
1) Apakah cukup kuat keimanan seorang pengusaha menggunakan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat atau malah akan memperkaya dirinya sendiri untuk sebuah penghargaan sebagai pengusaha tersukses.
2) Apakah cukup kuat keimanan seorang hakim terhadap uang suap untuk menggadaikan hukum yang seharusnya ditegakkan dengan kejujuran untuk kepentingan masyarakat.
3) Apakah cukup kuat keimanan seorang dokter untuk menjaga kode etik dan sumpahnya, mengingat keluarganya membutuhkan banyak kebahagiaan.
4) Apakah cukup kuat iman seorang ustad, pastur, biksu, atau tokoh agama, terhadap kemolekan seorang perempuan.
5) Apakah akan cukup kuatkah iman seseorang untuk menantang ketidak adilan, kemunafikan, kebiadaban di muka bumi ini.

Ternyata iman itu pecah ditempat yang seharusnya tidak pecah. Artinya manusia belum memahmi hakikat iman tersebut, mereka terkecoh dengan hanya pendoktrinan antara surga dan neraka. Seharusnya manusia berpikir dan memahami jauh lebih mendalam bagaimana hakekat pilosofi iman itu sendiri.
Teman – teman sekalian coba kita tengok perilaku hewan – hewan yang dianggap sebagai makhluk “dibawah” kita. Tenyata menunjukan kemuliannya di hadapan kita.
Bagaimana kesetian yang amat dalam dari rakyat lebah terhadap “ibu surinya”, sampai – sampai mengorbankan jiwa dan raganya demi pengharapan besar terhadap nasib kerajaannya. Untuk keselamtan kelompoknya dari perburuan maka, seekor induk orangutan akan melindungi keluarganya dari bahaya. Bagaimana seekor induk ayam melebarkan sayapnya symbol kemarahan dan perlawanan ketika anak – anaknya diganggu. Apakah kita tidak malu ketika hewan disekeliling kita lebih cukup memperlihatkan iman untuk menunjukan sikap kesetiaan, kejujuran, ketulusan terhadap kelompoknya.

Apakah iman seorang manusia masih ada ? sedangkan dunia saat ini membutuhkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar